Rabu, 21 November 2012

Takut Sukses atau Takut Gagal?

Pernah ada yang bertanya, "Apakah takut sukses itu benar-benar ada?". Jangan-jangan cuma alasan takut gagal saja. Tapi sebelumnya kita ingin bertanya: "apa sih definisi sukses?". Kalau yg terbayang: punya mobil mewah, rumah besar, karir hebat...mmmm. ..barangkali kurang tepat. Saya lebih suka sukses dikaitkan dengan "I'm living my passion, I LOVE what I do,  I jump out of bed in the morning and can't wait to start my day, I am sharing my gifts with others...etc. "
Tapi hati-hati juga dengan kalimat manis diatas karena kita bisa terjebak di comfort zone dan tidak sadar kalau kita punya potensi. Ada satu kata yang sering dilupakan: "STRETCH". We want our success to evolve - to represent more of what we want to become. Untuk itu kita ingin stretch our zone. Dengan stretch we then make plans and take actions.

Takut gagal = gagal karena takut?
Katanya lebih banyak orang yg takut gagal daripada takut mati. Woow..kenapa ya? Kegagalan biasanya dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang memenuhi harapannya. Entah itu karir, bisnis, akademik atau relationship. Struktur masyarakat modern diciptakan dari konsep kompetisi. Survival for the fittest. Untuk survive, kamu harus berhasil. Kalau tidak kamu gagal dan mati. Begitulah kasarnya.
Orang yang takut gagal belum tentu orang bodoh. Namun ada mekanisme "self-sabotaging" yang ada dalam dirinya. Biasanya ini berkaitan dengan keinginan dia untuk tampil perfect. Menjadi idol yang dikagumi banyak orang. Sayangnya ia justru menjadi terbebani dengan standar perfection yang berlebihan.

Darimana asalnya?
Secara psikologis, orang yang takut sukses dan takut gagal memiliki isu sama di "willpower". Mungkin kedengarannya aneh, orang yang takut sukses willpower-nya kecil. Ia cenderung stagnant dan tidak men-challenge dirinya untuk melakukan hal-hal baru. Orang yang takut gagal justru willpower-nya besar. Tapi sayangnya ia menyalahgunakan willpower itu dengan men-sabotase dirinya sendiri. Ia bisa menyusun rencana untuk sebuah pekerjaan yang luar biasa, tapi tidak melakukan action apapun dan tiba2 perhatiannya beralih ke kegiatan yang lain.
Sekarang kita lihat belief atau pandangan apa saja yang membuat willpower tidak bisa teraktualisasikan dengan optimal.

Beliefs orang yang takut gagal
"Saya harus sempurna"
"Saya harus jadi nomor satu"
"Saya harus berhasil supaya orang-orang mengagumi saya"
"Kegagalan adalah akhir segalanya"
"Saya akan dihukum kalau saya gagal"
"Saya harus menjaga citra diri"
"Pandangan orang tentang saya harus selalu baik"

Beliefs orang yang takut sukses
"Kalau saya berubah nanti saya jadi orang lain"
"Saya menghindari tanggung jawab"
"Saya suka menunda pekerjaan"
"Saya merasa kurang berarti"
"Tidak mungkin!" , "Masa sih bisa?"
"Saya tidak tahu bagaimana melakukannya"
"Saya takut ketidakpastiaan"
Kalau kita telusuri lebih dalam, takut sukses dan takut gagal biasanya timbul karena adanya emotional atau sexual abuse di masa kecil. Core beliefnya adalah feeling unwanted. Sayangnya orang tua yang semestinya berperan positif dalam perkembangan si anak justru tanpa sadar melakukan abuse sehingga ketika beranjak dewasa si anak menjadi pribadi yang takut. Emosi si ibu pada saat mengandung tentunya juga membentuk karakter awal si anak. Lingkungan, termasuk teman2, juga berperan dalam pembangunan kejiwaan si anak. Environment affects gen.

Ciri-ciri di tubuh
Abuse ini bisa diamati dengan mudah di tubuh kita. Tubuh sebelah kiri menyimpan emotional abuse. Beberapa orang yang saya temui mengeluh tubuh sebelah kirinya pegal, lemah dan gampang sakit. Bisa ditebak, setelah ditelusuri mereka menyimpan memori emotional abuse pada saat kecil.
Tubuh sebelah kanan menyimpan sexual abuse. Gejalanya hampir mirip dengan emotional abuse. Terasa lemah, tapi juga bisa kaku dan terasa berat.
Kabar baiknya, kita bisa keluar dari kondisi terbatas ini asal punya willpower yang kuat. Terapi menfasilitasi perubahan, sementara diri sendirilah yang menjalankan perubahan itu. Willpower ini katanya menunggu untuk dibangkitkan. Bukan besok atau lusa tapi seperti orang bijak bilang, "Kalau tidak sekarang kapan lagi?"
Anda mau refresh ? bingung mau cari kemana ? nihh  kami ada solusi :) silahkan buka di outbound malang atau kunjungi http//www.nolimitadventure.com .. pasti Anda senang :) silahkan mencoba ..

Tujuan Utama vs Tujuan Penghantar

Dalam satu kesempatan workshop seorang peserta wanita bertanya, "Bagaimana caranya mendapatkan klien banyak untuk bisnis saya?". Pertanyaan ini cukup mengejutkan yang membuat saya bertanya balik, "Apa yang ibu dapatkan dari klien yang banyak ini?". Ia spontan menjawab, "Tentunya uang berlimpah dong..." Jawaban yang disambut gelak tawa ini sepertinya memang jawaban normal yang biasa kita dengar dari sebagian besar orang.

Saya pun meneruskan bertanya, "Dari uang yang berlimpah ini apa yang sesungguhnya ibu inginkan?" Si ibu menjawab tanpa ragu-ragu,"Sebetulnya saya ingin membangun sekolah gratis buat remaja yang kurang mampu. Dalam visi saya sekolah ini mampu mengajarkan remaja itu bagaimana caranya menjadi entrepreneur sejak mereka kecil..."

"Waah...sangat mulia sekali tujuan si ibu ini," pikir saya.

Namun kalau kita amati, si ibu ini fokus pada tujuan yang salah. Tujuan utama dia adalah membuat sekolah entrepreneur bagi remaja. Namun fokus dia sekarang tertuju pada bagaimana caranya mendapatkan klien yg banyak untuk bisnisnya.

Mendapatkan klien banyak dalam konteks ini bisa kita bilang sebagai tujuan penghantar, bukan tujuan utama. Setiap hari kita selalu bergerak menuju tujuan. Yang sering kita tidak aware, apakah pergerakan kita ini menuju tujuan utama atau hanya sekedar tujuan penghantar. Seandainya si ibu itu fokus pada tujuan utama, tentunya dia tidak perlu khawatir bagaimana mendapatkan klien. Bisa saja sekolah gratis ini mendapatkan sponsor atau ada orang yang bersedia menyumbang gedung, atau apa saja.

Begitu kita menyadari tujuan utama kita dan menaruh perhatian kesana, segala kemudahan pasti muncul. What you focus on, expands. Pikiran bawah sadar kita tiba-tiba bergerak sendiri dan mengundang orang-orang disekeliling untuk tertarik pada apa yang kita kerjakan.

Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk selalu bertanya. Bertanya pada diri sendiri, misalnya "Kenapa saya menginginkan ini?". Ganti "ini" dengan uang, jodoh, karir, atau apa saja. Pertanyaan ini akan mengundang jawaban yang memberitahu alasan kenapa Anda menginginkan sesuatu.

Jika alasan yang Anda temukan ternyata tidak terlalu kuat, teruslah bertanya sampai Anda mendapatkan alasan yang meyakinkan. Seperti contoh si ibu diatas. Alasan dia untuk mendapatkan klien yang banyak ternyata tidak cukup kuat. Setelah digali ternyata alasan utamanya adalah keinginan luhur dia untuk membuat sekolah bagi remaja.

Dengan menyadari kita punya alasan kuat untuk mencapai sesuatu, pikiran kita menjadi lebih fokus. Diri kita tidak mudah goyah saat dihadapkan pada rintangan. Alasan yang kuat seperti lem yang merekatkan diri kita dengan tujuan utama yang ingin kita capai.

Selamat berkarya....

 Anda mau refresh ? bingung mau cari kemana ? nihh  kami ada solusi :) silahkan buka di outbound malang atau kunjungi http//outbounddimalang.com/ .. pasti Anda senang :) silahkan mencoba ..